Ibu Hamil dengan HIV/AIDS Minta Keadilan

Kompas.com - 21/04/2009, 21:29 WIB

BEKASI, KOMPAS.com - Seorang ibu muda dengan HIV/AIDS yang tengah hamil, E (25) mencari keadilan atas kondisi suaminya Bn (27) penderita AIDS agar bisa mendapat pengobatan rawat jalan hingga ajal menjemputnya.
     
"Suami saya beratnya hanya 30 Kg dengan CD-4 tinggal 46 sementara orang normal memiliki 1.500. Ia kini terkapar tanpa bisa mendapat perawatan," ujar E, di Bekasi, Selasa.

E yang mengontrak di sebuah kompleks perumahan di kota Bekasi itu bermaksud mencegat walikota Bekasi, bila keinginannya untuk mendapatkan surat rawat jalan suaminya tidak digubris.

Suami E, yang tertular virus HIV dari perbuatannya mengkonsumsi narkoba itu, sebelumnya sudah dirawat satu bulan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Suaminya selanjutnya dibawa pulang. Ia kini menderita tuberculosis dan penyakit lever yang harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum melanjutkan terapi AIDSnya.

E menyatakan, berbekal surat keterangan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), suaminya telah mendapat perawatan selama satu bulan di RSCM tanpa bayar.

Ia kini ingin membawa suaminya rawat jalan menyembuhkan sakit lever dan TBC-nya, tapi rumah sakit RSCM tidak bersedia menerima karena tidak adanya surat rawat jalan.

E menyatakan telah mencoba membawa suami ke rumahsakit Hasan Sadikin Bandung tetapi ditolak dengan alasan pengobatan sebelumnya dilakukan di RSCM.

Ibu satu anak yang ketahuan HIV/AIDS akhir Pebruari 2009, itu menyatakan tidak memiliki biaya lagi untuk mengobati suaminya.

"Ketika ada uang saya bawa suami berobat tanpa menggunakan Jamkesmas. Tapi sekarang tidak ada lagi biaya untuk pengobatan," ujar E yang mengaku bersyukur anak pertamanya yang telah berusia 1,5 tahun itu negatif dari HIV/AIDS.

"Untuk anak yang saya kandung ini akan lahir dengan operasi sesar agar tidak tertular. Entah bagaimana biayanya," ujar E menerawang sambil berlinang airmata.

Ia mengaku telah mendatangi kantor dinas sosial agar dibuatkan surat permohonan rawat jalan dengan fasilitas Jamkesmas, tapi dijawab pegawai Dinsos tidak ada lagi biaya rawat jalan bagi penderita HIV/AIDS di RSCM.

E yang memiliki virus HIV 0,05 persen dan cidifor 700 itu berharap agar pemerintah daerah memperhatikan pengobatan dan suaminya agar bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

"Suami saya sudah tidak menggunakan narkoba sejak 2000 lalu. Saya kenal dia tiga tahun lalu dalam keadaan segar bugar dan gagah. Kini penyakit itu telah merenggut kebahagiaan saya, suami dan mungkin nanti anak-anak," ujarnya sambil menangis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau